Direktorat Pendidikan Agama Islam

Kiprah Maziyatun, Guru PAI-BP Menyemai Benih Toleransi di Wilayah Minoritas Muslim

Ket foto: Ibu Maziyatun bersama rekan



Oleh: Apriyadi Wardoyo (JFU pada Subdit PAI pada SMA/SMALB)


Waktu menunjukkan pukul 19.45 di Kota Bogor. Mendung sedikit menyelimuti cuaca di malam itu, diiringi terpaan angin dingin menusuk tulang. Kota Bogor memang dikenal dengan julukan “Kota Hujan”, dan dinginnya udara malam itu seakan menjadi bukti keabsahan predikat yang melekat pada kota tersebut.

Kehangatan berbincang-bincang dengan Maziyatun, Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (PAI-BP) asal Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), tanpa terasa membuat pudar suasana dingin yang sempat mengusik diri. Maziyatun hadir di Kota Bogor bukan tanpa sebab, ia ditugaskan oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTT untuk mengikuti kegiatan Workshop Penyusunan Soal Ujian Sekolah bagi Guru PAI-BP di Hotel Ibis Styles, Bogor, Jawa Barat. Kegiatan itu sendiri diselenggarakan oleh Subdit PAI pada SMA/SMALB dan SMK, Direktorat Pendidikan Agama Islam Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama.

Ini adalah kali pertama Maziyatun berkunjung ke Kota Bogor. Di tengah kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang digulirkan pemerintah, tentunya butuh kemauan yang kuat bagi Maziyatun untuk memenuhi berbagai persyaratan agar dirinya bisa berangkat ke Kota Bogor. Agaknya peribahasa “sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang” layak disematkan kepada wanita yang akrab disapa Ziya ini.

“Saya mendapat informasi penugasan untuk mengikuti kegiatan Workshop Penyusunan Soal Ujan Sekolah bagi Guru PAI sekitar 3 hari sebelum hari H. Langsung saya urus ke Kanwil Kemenag NTT terkait surat tugas dan lain sebagainya. Karena ingin mendapat tambahan ilmu, saya bulatkan tekad untuk berangkat,” jelasnya.

Penuh perjuangan

Namun, upaya tersebut dijalaninya dengan tidak mudah. “Dari Rumah saya sewa travel untuk ke Kupang, kemudian menginap di Kupang di tempat anak yang sedang kuliah di Undana (Universitas Nusa Cendana Kupang-red). Keesokannya saya tes PCR (Polymerase Chain Reaction-red) untuk mendapatkan keterangan negatif Covid-19 agar bisa terbang ke Jakarta. Sehabis tes saya harus nunggu satu hari lagi untuk hasilnya. Hasil tes keluar dan alhamdulillah negatif, hari berikutnya baru saya terbang ke Jakarta. Jadi, sekitar 3 malam saya menginap di Kupang untuk mengurus keberangkatan,” kisah Ziya (Jum’at, 10/09/2021).

Ziya bertugas sebagai Guru PAI-BP di SMKN 2 Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Provinsi NTT. Guru honorer kelahiran Gresik, 1 Juli 1979 ini merupakan satu-satunya tenaga pendidik yang beragama Islam di sekolahnya. Walau demikian, ia mengaku tidak pernah mengalami perlakuan yang bernada diskriminatif.

“Di antara 100 orang guru dan pegawai, saya satu-satunya yang beragama Islam. Memang di Kabupaten TTS mayoritas beragama Protestan, Islam tidak sampai 10%. Namun, khususnya kami di SMKN 2 Soe, tidak ada yang namanya perlakuan membeda-bedakan. Kami semua sama saling menghargai. Anak didik saya yang muslim juga baik-baik saja, dengan para guru atau dengan peserta didik lainnya yang nonmuslim,” tutur Ziya.

Ibu satu anak ini bercerita bahwa pembelajaran PAI-BP di sekolahnya dapat berjalan sebagaimana mestinya. Menurutnya kolaborasi antara pihak sekolah, wali murid, dan guru terjalin dengan sangat baik. Ziya merasakan dukungan yang positif dari kepala sekolah dan juga rekan-rekan sejawatnya perihal pelaksanaan tugasnya sebagai Guru PAI-BP.

“Anak didik saya yang muslim jumlahnya 58 orang, dari kelas X hingga kelas XII. Mereka kebanyakan pendatang dari Jawa dan Makassar, ada sebagian kecil yang asli TTS. Yang putri semuanya berjilbab. Saya tidak memaksakan, sekolah juga tidak mempersoalkan. Kepala sekolah sangat mendukung kegiatan kami, contohnya seperti ada alokasi waktu ketika salat zuhur dan asar. Sekolah kami sudah memiliki musala dan ruang agama untuk yang beragama Islam. Semua itu hasil kerja sama antara kepala sekolah, wali murid, dan guru. Bahkan saya sempat dibuat terharu, suatu ketika masuk waktu salat zuhur dan ada guru yang notabene nonmuslim mengingatkan saya untuk melaksanakan salat,” terangnya.

Bersama dalam perbedaan

Kebersamaan Ziya dengan peserta didiknya tidak terbatas pada pembelajaran intrakurikuler di kelas. Ziyapun tidak segan meluangkan waktu untuk memberi tambahan ilmu kepada anak didiknya melalui majelis taklim Husnul Khotimah yang diampunya.

“Setiap hari Jumat ada kegiatan ekskul untuk semua agama, termasuk yang Islam. Biasanya saya gunakan untuk pengajaran membaca Alquran. Selain itu saya juga ada majelis taklim di luar sekolah bersama anak-anak dari kelas X sampai kelas XII, namanya majelis taklim Husnul Khotimah. Kami laksanakan bergilir dari rumah ke rumah satu bulan sekali, sehingga mejelis ini saya manfaatkan juga untuk berkomunikasi dengan para wali murid. Namum, selama pandemi ini tentunya belum bisa dilaksanakan,” ungkap Ziya.

Selain berprofesi sebagai Guru PAI-BP, Ziya juga aktif di organisasi Fatayat serta Muslimat Nahdlatul Ulama Kabupaten TTS. Semangat hidupnya berangkat dari motto yang sudah mandarah daging baginya, “ khairunnas ‘anfa’ahum linnas” (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama-red). Ziya selalu berupaya membina hubungan baik dengan kolega, tetangga maupun peserta didik yang berbeda keyakinan.

“Tetangga saya depan rumah, samping kanan dan kiri semuanya nonmuslim. Kalau saya sedang ada acara di rumah, mereka suka bantu dengan mempersilahkan halaman rumahnya sebagai tempat parkir. Sebaliknya jika mereka ada hajat, mereka biasa menggunakan rumah saya sebagai tempat memasak, terutama masakan yang memang sesuai kriteria kita sebagai muslim. Anak didik saya juga saya ajarkan untuk berbagi kepada sesama dan menghormati guru meskipun berbeda keyakinan. Saya dan anak-anak biasanya saat momentum Tahun Baru Islam mengumpulkan sekedar iuran, kemudian kami ajak para guru untuk makan-makan bersama. Bukan makan besar, tetapi setidaknya ada kebersamaan dan semangat berbagi. Kadang pula kami bawakan kue ke setiap jurusan untuk dinikmati bersama-sama,” cerita Ziya.

Istri dari Widi Handono ini menyadari bahwa hidup di lingkungan minoritas muslim pastilah selalu ada potensi pertentangan atau pergesekan baik yang disengaja maupun tidak. Sikap bijak diperlukan agar potensi tersebut tidak membesar menjadi konflik berkepanjangan.

“Kemarin itu kan sempat ada isu kebijakan pemerintah daerah soal legalisasi miras tradisional. Kita sebagai muslim tentu menyayangkan kebijakan tersebut. Namun, mayoritas masyarakat yang faktanya adalah nonmuslim memandang tidak masalah, ya mau gimana juga. Saya ajak anak-anak diskusi tentang masalah ini, insya Allah mereka tetap pada pendirian bahwa miras adalah haram bagi umat Islam. Sejauh ini, saya tidak melihat anak-anak terpengaruh atau berubah pendirian. Di sekolahpun, kurang lebih selama setahun ini saya dipercaya sebagai koordinator kantin. Setidaknya kepercayaan semacam itu merupakan bentuk penghargaan dari mayoritas kepada kita yang minoritas, khususnya dalam mengatur makanan dan minuman agar yang muslim merasa nyaman. Intinya bagaimana sebijak-bijaknya kita bersikap,” ujar Ziya.

Ia berharap anak didiknya kelak menjadi insan-insan yang sukses dunia dan akhirat serta tidak melupakan jasa bapak dan ibu guru yang telah memberikan ilmunya kepada mereka, tanpa memandang perbedaan akidah atau keyakinan. Guru tetaplah seorang guru meskipun berbeda keyakinan dengan kita, itulah ajaran yang disemai Ziya kepada murid-muridnya.

“Saya kepingin anak-anak jadi orang sukses, dunia dan akhirat. Tidak lupa saya berpesan agar hormat dan selalu ingat akan jasa bapak dan ibu guru mereka, walaupun beda agama. Saya tanamkan agar jangan lupa cium tangan ketika bertemu guru, semua guru bukan hanya saya. Keyakinan boleh berbeda, tetapi ilmu yang didapat selama bersekolah di SMKN 2 Soe adalah buah dari pengabdian bapak dan ibu guru di sini. Berterima kasih kepada orang yang berjasa kepada kita adalah bagian dari ajaran Islam itu sendiri,” tutupnya.


(Time Media PAi)