Direktorat Pendidikan Agama Islam

INTERNALISASI NILAI-NILAI LEBIH EFEKTIF DALAM PEMBELAJARAN PAI

Bandung (Dit. PAI) - Menurut Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama RI, Rohmat Mulyana Sapdi, meski negara kita bukan negara agama, tapi agama harus tetap hadir dalam negara.

Demikian disampaikan kepada 40 peserta kegiatan Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) SD/SDLB se-Jawa di Bandung, 9 September 2021.

"Untuk itu karena negara kita negara moderat, agama tetap diajarkan di bangku-bangku sekolah. Di sekolah belajar tentang sains dan agama sekaligus. Maka sering disebut islamisasi ilmu atau integrasi antara agama dan ilmu," ungkap Rohmat yang juga Plt Direktur PAI.

Lebih lanjut lelaki kelahiran Tasikmalaya ini mengatakan bahwa dalam filsafat ilmu dikenal istilah "Fides quaerens intellectum" artinya "iman mencari pemahaman" atau "iman mencari kecerdasan". Maksudnya, hati lebih mengedepankan ilmu sehingga manusia belajar dan menuntut ilmu karena ada panggilan hati yang membuatnya akan bersikap bijak. Namun jika sebaliknya, maka manusia cenderung mengedepankan nafsu lawwamah (keserakahan) dalam mengembangkan ilmu.

Rohmat yang juga pernah menerbitkan buku berjudul "Model Pembelajaran NILAI melalui PAI" ini mengatakan pendidikan agama yang didekati dengan sains justru lebih mudah dipahami dan dipercaya dalam dunia nyata.

Untuk itu dalam implementasi pendidikan beragama, perlu proses dan nilai-nilai loyalitas.

Dalam bukunya yang dimaksud NILAI adalah Norma, Ilmu, Literasi, Afiksasi dan Internalisasi. Khusus untuk internalisasi akan efektif karena peserta didik sudah membiasakan nilai-nilai dan sikap religius dalam kehidupan sehari-hari.

Narasumber lain dari Instruktur Nasional (IN) Erwin Wasti menyampaikan materi terkait Asesmen Kompetensi Minimum (AKM).

Seperti diketahui, dihapuskannya Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) dan UN untuk SD, berdampak pada tetap perlunya indikator untuk memetakan mutu nasional dan bukan sebagai penentu kelulusan. AKM ini dilaksanakan di kelas tengah (kelas 5, 8, 11) yang harapannya akan mendapat perbaikan pada saat mereka di kelas atas.

Komponen AKM meliputi literasi dan numerik, karena di bidang inilah para siswa kita dipandang masih minim.

Hal ini salah satunya disebabkan karena para guru sendiri tidak terbiasa dengan pembuatan soal-soal berbasis AKM.

"Untuk itulah pelatihan tiga hari ini dilaksanakan, AKM diajarkan sebagai upaya pengembabgan pembelajaran PAI," ujar Erwin yang juga guru PAI dari Sumatera Utara.

(Wikan/Sugeng/Tim Media PAI)