Direktorat Pendidikan Agama Islam

Guru dan Desain Pembelajaran

Bandung (Dit. PAI) - Guru merupakan sosok penting dalam kelas pada satuan pendidikan. Ia menjadi panutan yang setiap ucapan dan perilaku ditiru oleh peserta didik. Imitasi peserta didik karena guru ditempatkan sebagai seorang berilmu yang sesungguhnya dapat merubah perilaku dan meningkatkan pengetahuan.

Demikian pokok pikiran yang berkembang dalam “orientasi kegiatan” pada Workshop Penguatan Kurikulum dan Pembelajaran untuk guru SD/SDLB dari Provinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Workshop berlangsung selama tiga hari di Kota Bandung, Jawa Barat, dimulai pada hari Rabu (08/09/2021).

Orientasi disampaikan Kasi Kesiswaan Mhd Nasir, Kasi Ketenagaan Aan Daniel Mukhlis, dan dipimpin JFT Pengembangan Teknologi Cucum Sumiyati. Dalam pengantarnya, Cucum menyebutkan bahwa guru dituntut memiliki rancangan suatu pembelajaran. Tuntutan ini adalah bagian tak terpisahkan dari tugas utama sebagai seorang pendidik untuk mencapai tujuan absah dan bernilai.

Nasir menyampaikan pengelolaan guru dan pengelolaan siswa. Menurut Nasir bahwa seorang guru harus pintar (smart) untuk dapat memberikan motivasi belajar siswa. Ciri guru smart adalah menguasai komponen pembelajaran, menyusun strategi pembelajaran, dan memiliki kompetensi cukup untuk optimalisasi pengajaran.

Sementara terkait pengelolaan siswa, Nasir menggambarkan bahwa kegiatan guru dalam menciptakan kondisi optimal kelas merupakan upaya membumikan pembelajaran. Dalam hal ini, seorang guru harus bisa menempatkan diri kapan ia menjadi fasilitator, penilai, dan pemimpin.

“Ada konsep yang saya kira kita semua tahu, yaitu perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pengerahan (actuacting), dan pengawasan (controlling). Konsep ini bisa digunakan untuk pengelolaan pembelajaran, membantu siswa untuk memperoleh pengetahuan,” sambung Mhd Nasir.

Sementara Kasi Ketenagaan Aan Daniel Mukhlis menyampaikan pentingnya pengelolaan waktu dan media. Dalam pandangan Aan, dalam beberapa fenomena, guru kenyataannya banyak tidak dapat mengendalikan waktu. Waktu yang tersedia tidak dapat digunakan dengan baik sehingga pembelajaran tidak efektif dan kurikulum tidak berguna.

“Dalam suatu fenomena, bahan pelajaran atau materi bisa jadi sudah selesai, tetapi waktu masih panjang. Ada pula sebaliknya, waktu sudah habis tetapi bahan pelajaran belum tuntas. Ini fenomena masih ada dalam pembelajaran PAI di sekolah,” tegas Aan Daniel Mukhlis.

Terkait dengan media pembelajaran, menurut Aan, media memiliki peran yang penting untuk terciptanya pembelajaran kondusif. Dalam pembelajaran, media menjadi salah satu komponen strategis. Tanpa media proses pembelajaran sebagai proses komunikasi tidak dapat berlangsung secara maksimal.

“Saya perhatikan guru memiliki kelemahan di situ. Oleh karena itu, workshop kali ini, selain mengenalkan moderasi beragama, guru dilatih untuk mengelola waktu dan memanfaatkan media,” tegas Aan.

Dalam kesempatan sama, Kasubdit PAI pada SD/SDLB Ilham, MPd menyebutkan bahwa workshop untuk melatih guru mampu mendesain pembelajaran yang efektif dan kondusif untuk tercapainya tujuan utama (goal of main) dari proses belajar.

(YB/PAI)