Direktorat Pendidikan Agama Islam

Dirjen Pendis Ingatkan Guru PAI tentang Tantangan Literasi Generasi Emas

Bogor (Dit. PAI) - Negara Indonesia akan memasuki usia satu abad pada tahun 2045, yang banyak disebut oleh berbagai pihak dengan istilah "Indonesia Emas 2045". Mengutip dari laman berita kompas.com tanggal 27 Maret 2017 berjudul "Ini Strategi Jokowi Menuju Indonesia Emas 2045...", istilah "Indonesia Emas" dimunculkan oleh Presiden Joko Widodo saat berpidato di acara pembukaan Rakernas Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Ballroom Ritz Carlton Hotel, Jakarta, Senin (27/03/2017). Dalam kesempatan itu pula, Jokowi menyampaikan bahwa Indonesia akan mengalami bonus demografi di tahun 2030. Diperkirakan pada 2030, sekitar 52% penduduk Indonesia adalah mereka yang tergolong usia produktif.

Bonus demografi yang akan dialami bangsa Indonesia tentunya tidak akan memberikan manfaat jika tidak disertai dengan ketersediaan sumber daya manusia unggul. Oleh karenanya, dunia pendidikan terutama sekali pendidikan Islam memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan terbentuknya generasi emas Indonesia yang berkesejahteraan di tahun 2030. Hal tersebut sebagaimana disampaikan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Islam Muhammad Ali Ramdhani, dalam kesempatan memberikan pengarahan kepada 40 orang Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) SMA dan SMK pada kegiatan Program Pengembangan Guru Master PAI SMA/SMK di Hotel Sahira Butik, Bogor, Jawa Barat.

"Ada satu kajian yang dilakukan oleh OECD (Organisation Economic for Cooperation and Development), sebuah organisasi untuk kerja sama ekonomi dan pembangunan tentang apa yang dibutuhkan oleh insan yang akan berkesejahteraan di tahun 2030. Orang yang berkesejahteraan di fase tahun 2030 adalah mereka yang menguasai beberapa kompetensi, antara lain: (1) kompetensi data (data competency); (2) kompetensi digital (digital competency); dan (3) kompetensi kesehatan (health competency). Ini model yang diberikan oleh OECD, tetapi saat kita berbicara tentang pendidikan Islam tentu saja ada aspek yang perlu kita berikan aksentuasi yakni terkait pemahaman beragama," ujarnya (Kamis, 02/09/2021).

Ali Ramdhani menambahkan bahwa manusia paripurna adalah mereka yang mampu mengimplementasikan beberapa kompetensi tersebut secara holistik dalam kehidupan sehari-hari.

"Sebagaimana taksonomi pendidikan yang kita pahami bersama, kaitannya dengan kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan untuk mewujudkan generasi emas Indonesia, maka manusia yang disebut paripurna atau insan kamil adalah mereka yang mumpuni dari segi ilmu, kokoh dari segi keterampilan, dan memiliki hal-hal baik dari segi perilakunya yang merupakan internalisasi dari nilai-nilai yang diyakininya," terang Dhani.

Demi mencapai kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan untuk mewujudkan generasi emas Indonesia di tahun 2030, Dhani mencatat beberapa penguatan pemahaman literasi yang harus dimiliki oleh peserta didik.

"Orang yang berbahagia di masa depan adalah mereka yang mempunyai pemahaman yang baik terkait literasi keuangan (financial literacy), literasi kesehatan (health literacy), literasi digital (digital literacy), dan literasi keagamaan (religious literacy). Literasi keuangan berkaitan dengan kemampuan memahami dinamika dunia keuangan yang kini banyak berbasis digital. Literasi kesehatan berbicara tentang kesiapan menghadapi ancaman penyakit. Literasi digital berhubungan dengan karakteristik era disrupsi digital yang meliputi berbagai bidang. Adapun literasi keagamaan merupakan nilai yang menghantarkan orang menjadi bahagia dunia dan akhirat. Anak-anak didik kita harus memiliki pemahaman tentang literasi-literasi ini," tukasnya.

Guru PAI SMA dan SMK dituntut untuk mampu beradaptasi dengan perubahan zaman yang serba digital. Nilai-nilai agama perlu disebarluaskan melalui berbagai media yang mudah diakses.

"Kita perlu mengokohkan dan menginternalisasikan nilai-nilai agama melalui berbagai media. Guru PAI harus melek media sosial dan terampil menggunakannya. Hanya satu yang dapat menghantarkan manusia untuk bahagia dunia dan akhirat, yaitu agama. Penopangnya adalah keuangan, kesehatan, digital, dan lain sebagainya. Kita ingin anak-anak yang kita bangun tidak dijajah oleh dinamika zamannya melainkan menjadi raja dinamika zamannya," pungkas Dhani.

Kegiatan Program Pengembangan Guru Masteri PAI SMA/SMK diselenggarakan oleh Subdit PAI pada SMA/SMALB dan SMK Direktorat Pendidikan Agama Islam Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama. Kegiatan berlangsung selama 3 hari, tanggal 1 hingga 3 September 2021. Rangkaian acara kegiatan dibuka secara resmi oleh Kasubdit PAI pada SMA/SMALB dan SMK Nurul Huda.

(Apri/Tim Media PAI)